Selasa, 25 April 2017

Me-reka

Di belahan dunia yang jauh dari hirup pikuk fana. Di sini, ada sekelompok anak menghiasi lidah polosnya, menerangi senja yang baur dengan ayat-ayatNya. Senja yang dikemas puitis dibanding aksara manis atau mungkin sapaan cinta bual yang saling lontar antara pemuja obsesi berhasrat sadis. Entahlah, selayaknya yang hakiki manis adalah yang tak pernah terkecap, yang tak membiarkan diri terkikis. Alasan apapun, selalu saja deret kata "niat baik" selalu tolol terdengar untuk menyenggamai kebodohan hasrat iblis, miris. 
Miris munajat dan aksara-aksara puitis yang sia kau tulis...
Bahagia macam apa itu?

Tulisan ini mungkin praktis, langsung ditulis namun bukan sisi skeptis. Mengalir saja...
Semestinya bahagiapun seperti itu, mengalir dan dialirkan olehNya..
Tak perlu menerka-nerka atau malah me-reka bahagiaNya dengan rekaan-rekaan fana.. Sederhana saja, dan kau cukup percaya...
Seperti wajah-wajah dalam bingkai, menjelaskan segala halNya adalah kebahagiaan yang membahagiakan, dan membiarkanNya membahagiakan hidupmu dengan segala yang tak teringkarkan.. 

"t-a-k la-gi"

Sudah kuteguk habis secangkir lara yang (tak lagi) kau aduk lembut...
Berbagai macam rasa kau taburkan di sana, campur aduk menjadi bena... Menggulung, menutup dan mengaramkan karang terjal, yang mungkin saja kau gunakan untuk mencekik dan memajalkan harap yang terganti asa ajal... Sayangnya, kau bukan pericih picik, mungkin... Seperti secangkir rindu di lusa kemarin, dengan sajian kacang-kacang yang belum sempat kau rebus...
Di depan jendela, saat senja tepat pada dimensinya. 
Kau mintaiku untuk jelaskan segala hal bahagia yang kujuluki fana..
Entah mata apapun tak akan pernah memahami buta, pada matamu.. Oh ya, mungkin pada mataku juga.. Sudahlah... Aku tak mau sajak sampah ini pun harus lagi bercerita dan mengulanginya serta... *** Sudah kuteguk habis secangkir lara yang (tak lagi) kau aduk lembut...
Berbagai macam rasa, pilu, rindu dan dusta mulai kuteguki bersama malam dan tepian waktu yang (tak lagi) senja, bergeming dan (tak lagi) memuji kirana... -ah-

EstuariNya

Cukup kau tonton saja semu-semu yang disenggamai pemeluk rukun bahagia fana.
Jangan takut, kalut, atau bahkan larut dengan syair-syair bunga bermadu kemelut... Percayalah... Pada saatnya, segala derai asa tepat bermuara pada estuariNya... Mungkin esok, lusa.. atau, Entahlah. Sambil berbenah, dengan tak apa sembari sedikit resah..
Pastilah kau yang terpilih indah..

Kau

Seumpama diksi yang merangkai puisi

Batas ?

Berhati-hatilah dengan mereka yang berjuang keras. Jika kesempatan berpihak, maka Sang Maha Luas memberikan kekuatanNya untuk melampaui batas. 
#8

Surat Lugu untuk Para Penenun Rindu-

Atas nama sang imaji, kuarahahkan mata pena ini untuk menulis pesan dan sajak lugu tentang dirimu... Hmm, Hai puisiku yang telah sejak lama menetap di ruang paling kalbu. Tak terasa begitu lekasnya kau tumbuh dan berkembang menjadi rangkai-rangkai kata yang menjelma cerita. Cerita yang tak biasa, namun juga tak begitu luar biasa. Sederhana, namun sarat akan rasa.

Lantun lugu lagu lucu darimu wajah-wajah jengkel yang akan selalu mengundang rindu, pula sendu atau sejenis aroma khayal lain yang berasal dari segala bebal, sebal dan kesal, yang sialnya malah membuatku semakin hibat akanmu.

Takdir kadang datang bertele-tele. Seringnya, permulaan cerita selalu berpasangan mutlak dengan perpisahan. Namun, jika bahagia sejatinya begitu. Melewatinya adalah keharusan tanpa syarat.

Berpisahlah untuk mengindahkan takdir, berpisahlah untuk bangun dari mimpi dan mewujudkannya.

Memang selalu ada batas antara langit dan lautan. Percayalah, seperti bulan dan angin, aku pun sama, selalu menyertai tepat di belakangmu. Berjalan di pematang rindu, akan selalu menemuimu lewat munajat panjang yang tak berjarak.

Kelak, segala hal yang kau pelajari akan membimbingmu.

Silahkan kau lintasi cakrawala, walau kadang dunia menentangmu sampai kau benar-benar mengenal dirimu.

Tolong kau ingat suara pelan ini untuk terus mengingatkanmu.
Ketika sudah mulai amat berbisik, jangan pernah kau usir pergi, dan jangan pernah biarkan sesal dahulu yang datang sebelum semua kau pahami.

Sekali lagi, takdir kadang datang bertele-tele.

Tolong kau ingat suara pelan ini untuk terus mengingatkanmu bahwa kita pernah mengeja lara dan bahagia bersama, di sini.

Kalam

Dan yang paling puisi darimu adalah lantun ucap yang tak berkilauan, namun sejuk jernih setenang telaga