tuturkata_ahmajor7
Rabu, 10 Juni 2026
Kami Rakyat Desa. "Hidup Jo..."
Dollar tembus angka yang membuat rakyat menelan ludah. Harga kebutuhan ikut merangkak, BBM terasa semakin jauh dari kata "terjangkau".
Namun yang terdengar justru parade pidato, tepuk tangan, dan cerita tentang betapa banyaknya sahabat Indonesia di luar negeri.
Rakyat tentu ikut bangga. Sangat bangga. Sebab ternyata persahabatan internasional bisa bertambah lebih cepat daripada daya beli masyarakat.
Di saat sebagian orang menghitung uang receh untuk membeli bensin, ada pejabat yang sibuk menghitung jumlah kunjungan, jumlah seremoni, dan jumlah kalimat motivasi yang harus disampaikan di depan kamera.
Negeri ini memang unik. Ketika rakyat mengeluh harga naik, jawabannya sering kali bukan solusi, melainkan narasi. Ketika rakyat bertanya soal kesejahteraan, yang datang justru pidato tentang optimisme. Seolah-olah perut bisa kenyang dengan presentasi, dan dompet bisa terisi oleh semangat.
Yang lebih mengagumkan lagi, korupsi seakan sudah menjadi tontonan rutin. Setiap kali ada kasus, publik marah beberapa hari, lalu muncul kasus baru yang lebih fantastis. Malu yang dahulu menjadi pagar terakhir moralitas, kini tampaknya sudah dianggap barang mewah.
Koruptor tersenyum. Pejabat yang gagal tetap percaya diri. Rakyat yang mengkritik justru diminta lebih sabar. Mungkin memang definisi pengorbanan di negeri ini telah berubah: rakyat berkorban, sementara sebagian elite menikmati hasilnya.
Indonesia adalah negeri yang kaya. Kaya sumber daya, kaya budaya, kaya potensi, dan sayangnya juga kaya alasan mengapa masalah yang sama terus berulang.
Tapi untung saya orang kabupaten. Wilayahnya masih pakai istilah desa. Jadi kami tidak pakai dollar. Transaksinya masih barter. Dan bensinnya di desa itu adalah air. Jadi kalau harga BBM naik, kurs dollar melonjak, atau ekonomi dunia bergejolak, mungkin kami tinggal menambah isi ember saja. Begitu, kan? Karena kata orang-orang penting, rakyat desa tidak perlu khawatir soal dollar.
-ah
Selasa, 26 Mei 2026
Dialog yang Diabadikan Langit
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat Iduladha 1447 H.
Taqabbalallahu منا wa minkum, semoga Allah menerima segala ibadah dan keikhlasan kita.
Izinkan saya membagikan tulisan sederhana saya pagi ini yang terinspirasi dari khatib saat pelaksanaan salat Iduladha tadi.
Di antara begitu banyak pelajaran Iduladha, mungkin yang paling menyentuh adalah tentang bagaimana seorang ayah berbicara kepada anaknya, dan bagaimana seorang anak mempercayai ayahnya.
Dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kita belajar bahwa cinta orang tua bukan hanya tentang menjaga, memberi, dan memenuhi kebutuhan. Tetapi juga tentang menghargai hati anaknya sebagai manusia yang pantas didengar.
Betapa lembut Nabi Ibrahim.
Dalam ujian sebesar itu, beliau tidak datang dengan bentakan, tidak dengan kuasa seorang ayah, tidak pula dengan kalimat, “Turuti saja.”
Beliau memilih berbicara. Mengajak. Mendengar.
Seolah Allah ingin menunjukkan kepada kita, bahwa bahkan dalam perintah langit sekalipun, hati seorang anak tetap perlu dihormati.
Dan Nabi Ismail pun menjawab dengan keteguhan yang lahir dari rasa percaya, bukan rasa takut.
Karena anak yang tumbuh dalam kasih sayang dan kejujuran, akan lebih mudah memahami pengorbanan.
Hari ini mungkin banyak orang tua bekerja keras sampai lupa duduk sebentar mendengar cerita anaknya.
Banyak anak yang diberi fasilitas, tetapi jarang diberi ruang untuk didengar.
Padahal kadang yang paling dibutuhkan seorang anak bukan uang lebih banyak, melainkan satu percakapan yang membuatnya merasa:
“Rumah ini adalah tempat di mana aku dimengerti.”
Iduladha mengingatkan kita, bahwa keluarga tidak hanya dibangun oleh darah, tetapi oleh komunikasi yang penuh kasih, oleh kesediaan menahan ego, dan oleh hati yang saling percaya.
Sebab kelak, yang paling diingat anak bukan seberapa banyak yang orang tuanya miliki, melainkan bagaimana pelukan, nasihat, dan cara orang tuanya membuat ia merasa dicintai.
Semoga Allah melembutkan hati kita sebagai orang tua.
Menjadikan kita bukan hanya sosok yang ditakuti, tetapi juga tempat pulang yang menenangkan.
Dan semoga anak-anak kita tumbuh bukan hanya menjadi anak yang patuh, tetapi juga anak yang merasa dicintai sepenuh hati.
Selamat Iduladha.
Semoga setiap rumah dipenuhi percakapan yang hangat, doa-doa yang tulus, dan cinta yang tidak hanya hadir dalam pengorbanan, tetapi juga dalam perhatian kecil yang sering terlupakan.
— Asep Hidayatullah
Seorang guru biasa yang sedang belajar merawat makna melalui kata-kata.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Senin, 20 April 2026
(R)engkuh (A)nggun Kartini
Pada gelap nan sunyi perjuangannya
Ia menebar benih cahaya
Perlahan
Tak bising
Namun khusyuk, pasti, dan menyilaukan
-ah 210426
Senin, 23 Februari 2026
BURUH NEGERI SIPIL
Di negeri papan tulis dan spidol kering itu, guru diminta menjadi segalanya kecuali menjadi guru
Kami sibuk merapikan laporan, sementara jiwa murid menunggu disentuh dengan keikhlasan
Datangnya untuk menanam ilmu, merawat akar. Namun, dayanya malah tertitah menghitung daun
Minggu, 01 Februari 2026
Asep Hidayatullah: Guru dan Musik!
Profil Singkat
Asep Hidayatullah, S.Pd. adalah seorang pengajar Bahasa Indonesia di SMPN 3 Bogor yang memaknai pendidikan sebagai ruang perjumpaan antara kata, rasa, dan makna. Ia percaya bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan untuk membangun empati, imajinasi, dan karakter peserta didik.
Perjalanan hidupnya ditempa dari berbagai ruang. Setelah lulus dari MAN 2 Bogor, ia sempat bekerja sebagai karyawan di restoran siap saji selama dua tahun, sebuah fase yang mengajarkannya arti disiplin, ketekunan, dan kerja keras, sebelum akhirnya memutuskan melanjutkan studi di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Pakuan. Selama masa kuliah, ia aktif mengajar musik violin di Legatto Music School, sekaligus menumbuhkan kecintaannya pada dunia seni dan pendidikan.
Di luar kelas, Asep adalah seorang pemusik dan penulis. Ia menekuni gitar, violin, dan keyboard, membentuk homeband Besoklusa Music yang aktif mengisi acara pernikahan dan pertunjukan reguler, serta terlibat sebagai penata musik dalam berbagai garapan teater kampus. Sejak 2017, ia dipercaya menjadi pelatih utama dan Band Director Marching Band Gema Swara Mandapa MAN 2 Kota Bogor, dan pada tahun 2018 berhasil meraih Juara 3 Penata Musik Terbaik Tingkat Nasional dalam ajang Grand Prix Junior Band, sekaligus membawa Piala Presiden dan Kemendikbud.
Kecintaannya pada sastra membawanya terlibat dalam berbagai proyek musikalisasi puisi, termasuk bekerja sama dengan Helvy Tiana Rosa melalui kelompok musik Jumpakustik, serta menjadi pengiring musik dalam sejumlah penampilan pembacaan puisi beliau. Ia juga aktif dalam komunitas Guru Gemar Menulis Kota Bogor, menulis puisi dan cerpen, serta meraih Juara Umum Tingkat Nasional Lomba Menulis Puisi tentang Guru yang diselenggarakan oleh IMPE Publisher pada Desember 2024.
Dalam ranah pengembangan profesi, Asep merupakan Guru Penggerak Angkatan 11 (2024), Sie Bidang IT MGMP Seni Budaya Kota Bogor periode 2021–2025, serta Pengurus MGMP Bahasa Indonesia Bidang Perencanaan Program periode 2023–2027. Hingga kini, ia masih setia menulis puisi bersama istrinya untuk buku ketiga, sembari terus mengajar, bermusik, dan berkarya. Ia juga tergabung dalam kelompok musik Senandung Mubarock dan Persimpangan Rasa bersama para dosen Universitas Pakuan.
Bagi Asep, menjadi guru adalah menjadi penanam makna, dan menjadi pemusik adalah cara lain untuk merawat keheningan. Keduanya berjalan berdampingan, saling menguatkan, dan terus hidup dalam setiap langkah pengabdiannya.
#AsepHidayatullah
#GuruBahasaIndonesia
#GuruBahasaIndonesiaSMP
#SMPN3Bogor
#PenulisPuisi
#PemusikDanPendidik
#GuruPenggerak
#MusikalisasiPuisi
Minggu, 02 Februari 2025
Media Sosial : “Inspirasi atau Degradasi?"
Oleh : Asep Hidayatullah, S.Pd. Gr.
Pendahuluan
Dunia remaja saat ini tidak bisa dipisahkan dari pengaruh media sosial yang begitu kuat. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk mencari informasi, hiburan, dan bahkan mengembangkan kreativitas. Namun, di balik manfaatnya, penggunaan media sosial juga menimbulkan berbagai dampak negatif yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mendiskusikan apakah penggunaan media sosial lebih banyak memberikan manfaat atau justru membawa dampak buruk bagi remaja.
Gagasan Utama
Penggunaan media sosial di kalangan remaja memiliki dua sisi, yaitu positif dan negatif. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana untuk mengembangkan diri dan memperluas wawasan. Di sisi lain, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, gangguan mental, dan penurunan prestasi akademik.
Argumen (Pendukung)
Pertama, media sosial memberikan banyak manfaat bagi remaja. Mereka dapat mengakses informasi dengan cepat, belajar hal-hal baru, dan terhubung dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia. Selain itu, media sosial juga menjadi wadah untuk mengekspresikan kreativitas, seperti membuat konten video, menulis blog, atau memamerkan karya seni. Banyak remaja yang berhasil mengembangkan bakat mereka melalui platform ini, bahkan ada yang menghasilkan uang dari konten yang mereka buat.
Argumen (Penentang)
Di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif. Remaja sering kali menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk ‘scrolling’ media sosial, yang dapat mengganggu konsentrasi belajar dan menurunkan prestasi akademik. Selain itu, media sosial juga rentan terhadap konten negatif seperti bullying, hoaks, flexing dan atau eksposur konten (flexing) yang tidak sesuai dengan usia remaja. Hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti meningkatkan rasa cemas, rendah diri, atau bahkan depresi.
Simpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial memiliki dua sisi yang perlu dipertimbangkan. Di satu sisi, media sosial memberikan banyak manfaat, terutama dalam hal pengembangan diri dan akses informasi. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak negatif bagi remaja. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk menggunakan media sosial secara bijak, dengan membatasi waktu penggunaannya dan memilih konten yang bermanfaat. Orang tua dan guru juga perlu memberikan pemahaman dan pengawasan agar remaja dapat memanfaatkan media sosial secara positif.
@hidayatullahmaj7
Rabu, 23 Oktober 2024
Langganan:
Postingan (Atom)