Di tengah waktu yang perlahan sedang memeluk pagi
Mataku masih menyala membulak-balik figura-figura wajahmu
Sembari mengumpulkan kepingan-kepingan rindu yang semakin tercecer.
-Umma-
00.51
260219
AH
Di tengah waktu yang perlahan sedang memeluk pagi
Mataku masih menyala membulak-balik figura-figura wajahmu
Sembari mengumpulkan kepingan-kepingan rindu yang semakin tercecer.
-Umma-
00.51
260219
AH
aku lebih suka melumat habis lima belas buah caturmu dahulu,
lalu memberi jeda untuk melihat dan membiarkanmu tertatih-tatih menjadi raja malang yang sedang mencari tempat aman
uuhhh... pemandangan yang mengasyikan...
sampai saatnya tiba, jiwa raja yang kau banggakan bertekuk roboh tanpa daya di pojokan eksekusi kejiku
untuk lawan sepertimu, kau bukanlah sebuah hitungan
Otakmu tak setajam mulut tidak sedapmu yang penuh ancaman. menyedihkan, kau tak lebih dari sebuah kehinaan...
"Aku lebih suka melumat habis lima belas buah caturmu dahulu walau semua orang tahu bahwa aku mampu membuat tiga langkah sekak mat dan menjadikanmu mati kutu"
_tentang catur_
-ah-
Tak ada diksi yang paling puitis untuk melukis segala hal manis tulusmu guru
Jika terkias langit, aku hanyalah kehampaan dengan gelap pekat...
Dan kau adalah bulan dengan tuturmu yang berkerlipan indah untuk dipanut dan didengar..
Duniaku kini bergelimpangan warna, yang dulu hanya mampu membuat garis-garis. Terarah kini menjadi rangkaian bentuk kata yang perlahan menjelma rangkai puitis Karenamu...
Terima kasih guruku dari hatiku
Andai mentari tiada
Dunia mungkin beku dan bisu
Dan aku hanyalah sang malang dingin tanpa hangat sabarmu
Kau adalah titik cahaya yang kucari
Yang memancar pelangi di setiap sudut bibirmu..
Kau adalah harapan yang tak berdasar balasan
Pengubah segala kemungkinan menjadi kenyataan..
Yang tak lelah dan jauh dari kata menyerah untuk membimbing dengan lentera ilmu-mu..
Jika surga adalah kalam yang serupa syukur. Maka yang paling surgawi adalah tempat terbaik yang pantas kau pijak.
Guru....
Terima kasih....
"Guru "
-AH- 240518
Matamu rapuh dan gelisah
Aku bisa menembusnya
dan melihat ke dalam hatimu...
Ada resah di sana, tertidur nyenyak dalam dekapanmu...
Aku ingin membangunkannya
berbisik bahwa aku sudah memaafkan gegabah konyolmu kirana
Meyakinkanmu menyilakan resah agar menyerah dan lekas enyah...
Kirana, tadi itu ceroboh...
ah, 19.39
101218
Aku tak pernah mampu menjadi pembenam pilu yang angkuh
Memunguti rindu yang berceceran masih menjadi salah satu kegiatan bodoh kegemaranku
Saat pagi hingga petang, lalu siang hingga hampir setengah gelap malang, masih saja kutelanjangi senja yang semakin tenggelam dengan mengepul ceceran rindu yang kukumpulkan pada keranjang-keranjang risau.
-pembenam pilu- AH 23.17
Aku tak pernah mampu menjadi pembenam pilu yang angkuh
Memunguti rindu yang berceceran masih menjadi salah kegiatan bodoh kegemaranku
Saat pagi hingga petang, lalu siang hingga hampir setengah gelap malang, masih saja kutelanjangi senja yang semakin tenggelam dengan mengepul ceceran rindu yang kukumpulkan pada keranjang-keranjang risau.
-pembenam pilu- AH 23.17
Doaku di penghujung senja sepertinya mulai dipeluk Tuhan
Mega kuning kemerahan menjadi ritme harap-harap cemas yang kumunajatkan
Sembari menguap tak terlalu lebar dan mengucek-ngucek mata berdiri untuk meregangkan tubuh
Tepat melihatmu yang sedang memeragakan tarian
Seperti biasa, kau menyenyumi, tersipu lalu malu-malu. Namun ku tak terjebak seperti dulu, "Tuhan memeluk doaku" gumamku.
Burung-burung riang terbang. Sudah hampir malam rupanya...
-doa di penghujung senja, AH 21.20- 110718