Rabu, 10 Juni 2026
Kami Rakyat Desa. "Hidup Jo..."
Dollar tembus angka yang membuat rakyat menelan ludah. Harga kebutuhan ikut merangkak, BBM terasa semakin jauh dari kata "terjangkau".
Namun yang terdengar justru parade pidato, tepuk tangan, dan cerita tentang betapa banyaknya sahabat Indonesia di luar negeri.
Rakyat tentu ikut bangga. Sangat bangga. Sebab ternyata persahabatan internasional bisa bertambah lebih cepat daripada daya beli masyarakat.
Di saat sebagian orang menghitung uang receh untuk membeli bensin, ada pejabat yang sibuk menghitung jumlah kunjungan, jumlah seremoni, dan jumlah kalimat motivasi yang harus disampaikan di depan kamera.
Negeri ini memang unik. Ketika rakyat mengeluh harga naik, jawabannya sering kali bukan solusi, melainkan narasi. Ketika rakyat bertanya soal kesejahteraan, yang datang justru pidato tentang optimisme. Seolah-olah perut bisa kenyang dengan presentasi, dan dompet bisa terisi oleh semangat.
Yang lebih mengagumkan lagi, korupsi seakan sudah menjadi tontonan rutin. Setiap kali ada kasus, publik marah beberapa hari, lalu muncul kasus baru yang lebih fantastis. Malu yang dahulu menjadi pagar terakhir moralitas, kini tampaknya sudah dianggap barang mewah.
Koruptor tersenyum. Pejabat yang gagal tetap percaya diri. Rakyat yang mengkritik justru diminta lebih sabar. Mungkin memang definisi pengorbanan di negeri ini telah berubah: rakyat berkorban, sementara sebagian elite menikmati hasilnya.
Indonesia adalah negeri yang kaya. Kaya sumber daya, kaya budaya, kaya potensi, dan sayangnya juga kaya alasan mengapa masalah yang sama terus berulang.
Tapi untung saya orang kabupaten. Wilayahnya masih pakai istilah desa. Jadi kami tidak pakai dollar. Transaksinya masih barter. Dan bensinnya di desa itu adalah air. Jadi kalau harga BBM naik, kurs dollar melonjak, atau ekonomi dunia bergejolak, mungkin kami tinggal menambah isi ember saja. Begitu, kan? Karena kata orang-orang penting, rakyat desa tidak perlu khawatir soal dollar.
-ah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar