Selasa, 26 Mei 2026
Dialog yang Diabadikan Langit
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat Iduladha 1447 H.
Taqabbalallahu منا wa minkum, semoga Allah menerima segala ibadah dan keikhlasan kita.
Izinkan saya membagikan tulisan sederhana saya pagi ini yang terinspirasi dari khatib saat pelaksanaan salat Iduladha tadi.
Di antara begitu banyak pelajaran Iduladha, mungkin yang paling menyentuh adalah tentang bagaimana seorang ayah berbicara kepada anaknya, dan bagaimana seorang anak mempercayai ayahnya.
Dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kita belajar bahwa cinta orang tua bukan hanya tentang menjaga, memberi, dan memenuhi kebutuhan. Tetapi juga tentang menghargai hati anaknya sebagai manusia yang pantas didengar.
Betapa lembut Nabi Ibrahim.
Dalam ujian sebesar itu, beliau tidak datang dengan bentakan, tidak dengan kuasa seorang ayah, tidak pula dengan kalimat, “Turuti saja.”
Beliau memilih berbicara. Mengajak. Mendengar.
Seolah Allah ingin menunjukkan kepada kita, bahwa bahkan dalam perintah langit sekalipun, hati seorang anak tetap perlu dihormati.
Dan Nabi Ismail pun menjawab dengan keteguhan yang lahir dari rasa percaya, bukan rasa takut.
Karena anak yang tumbuh dalam kasih sayang dan kejujuran, akan lebih mudah memahami pengorbanan.
Hari ini mungkin banyak orang tua bekerja keras sampai lupa duduk sebentar mendengar cerita anaknya.
Banyak anak yang diberi fasilitas, tetapi jarang diberi ruang untuk didengar.
Padahal kadang yang paling dibutuhkan seorang anak bukan uang lebih banyak, melainkan satu percakapan yang membuatnya merasa:
“Rumah ini adalah tempat di mana aku dimengerti.”
Iduladha mengingatkan kita, bahwa keluarga tidak hanya dibangun oleh darah, tetapi oleh komunikasi yang penuh kasih, oleh kesediaan menahan ego, dan oleh hati yang saling percaya.
Sebab kelak, yang paling diingat anak bukan seberapa banyak yang orang tuanya miliki, melainkan bagaimana pelukan, nasihat, dan cara orang tuanya membuat ia merasa dicintai.
Semoga Allah melembutkan hati kita sebagai orang tua.
Menjadikan kita bukan hanya sosok yang ditakuti, tetapi juga tempat pulang yang menenangkan.
Dan semoga anak-anak kita tumbuh bukan hanya menjadi anak yang patuh, tetapi juga anak yang merasa dicintai sepenuh hati.
Selamat Iduladha.
Semoga setiap rumah dipenuhi percakapan yang hangat, doa-doa yang tulus, dan cinta yang tidak hanya hadir dalam pengorbanan, tetapi juga dalam perhatian kecil yang sering terlupakan.
— Asep Hidayatullah
Seorang guru biasa yang sedang belajar merawat makna melalui kata-kata.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar