Tetaplah hidup dalam bising sunyi sepertiga yang kau puja
Khilafkan lara lalu yang kian meredup
Me-layu dan bergeming di hadapNya
-ah, 251117-
Tetaplah hidup dalam bising sunyi sepertiga yang kau puja
Khilafkan lara lalu yang kian meredup
Me-layu dan bergeming di hadapNya
-ah, 251117-
Berkelaluan, pena beruntung yang digenggammu menjelma bak bedaya di atas hamparan karpet kertas
Melengok
Mendayu, hilir-mudik menafsir imaji
Pernak-pernik citra, angan atau bukti mimpi, kau gubah dalam untai kalam plastis
Menyengsam elok dalam palung renung pengeja alif-bata
ah, 071117 10:00
Jangan membenci hujan duhai sang penjaga, karena tak jarang kau menembus waktu dan berkuyup di dalamnya. Pula pesan bunyi rintihnya adalah rindu yang tak berharap balas anggapan darimu yang selalu meniadakan.
Sudah beralamat, ribuan tanya yang kau selamkan lewat waktu yang kesepian tak diacuhkan arah. Seperti cangkir hello kitty yang tanpa kau sadar selalu menjadi peranti pelepas dahaga pergumulan mencapaiNya, tak ingin ditahui, diam-diam kaktus menyuka rona kemerah mudaan,
Tetaplah hidup dalam bising sunyi sepertiga yang kau puja. Khilafkan perlahan lara lalu yang kian meredup. Me-layu nan bergeming, di hadapNya.
Entah ruang mana yang sering kau juluki rindu, namun setiap kata yang menjerit, begitu saja menggema. Lamat-lamat tertelan sunyi. Pergi, melajang tanpa dipeluk waktu.
Mata-mata sedih memandangiku
Bulir-bulir kristal bening menggantung di setiap sudut matanya yang agak sipit. Hampir meluncur.
Mungkin puluhan kilometer yang katamu mampu dipangkas lewat sajak yang disembahkan kepada penata masa akan sering diulang. Menghakiki dalam rindu dan rasa yang rahmat...
Sang Maha Puisi, catatilah dua asma perindu sebagai satu syair puitis. AtasMu.