Berhati-hatilah dengan mereka yang berjuang keras. Jika kesempatan berpihak, maka Sang Maha Luas memberikan kekuatanNya untuk melampaui batas.
#8
Selasa, 25 April 2017
Batas ?
Surat Lugu untuk Para Penenun Rindu-
Atas nama sang imaji, kuarahahkan mata pena ini untuk menulis pesan dan sajak lugu tentang dirimu... Hmm, Hai puisiku yang telah sejak lama menetap di ruang paling kalbu. Tak terasa begitu lekasnya kau tumbuh dan berkembang menjadi rangkai-rangkai kata yang menjelma cerita. Cerita yang tak biasa, namun juga tak begitu luar biasa. Sederhana, namun sarat akan rasa.
Lantun lugu lagu lucu darimu wajah-wajah jengkel yang akan selalu mengundang rindu, pula sendu atau sejenis aroma khayal lain yang berasal dari segala bebal, sebal dan kesal, yang sialnya malah membuatku semakin hibat akanmu.
Takdir kadang datang bertele-tele. Seringnya, permulaan cerita selalu berpasangan mutlak dengan perpisahan. Namun, jika bahagia sejatinya begitu. Melewatinya adalah keharusan tanpa syarat.
Berpisahlah untuk mengindahkan takdir, berpisahlah untuk bangun dari mimpi dan mewujudkannya.
Memang selalu ada batas antara langit dan lautan. Percayalah, seperti bulan dan angin, aku pun sama, selalu menyertai tepat di belakangmu. Berjalan di pematang rindu, akan selalu menemuimu lewat munajat panjang yang tak berjarak.
Kelak, segala hal yang kau pelajari akan membimbingmu.
Silahkan kau lintasi cakrawala, walau kadang dunia menentangmu sampai kau benar-benar mengenal dirimu.
Tolong kau ingat suara pelan ini untuk terus mengingatkanmu.
Ketika sudah mulai amat berbisik, jangan pernah kau usir pergi, dan jangan pernah biarkan sesal dahulu yang datang sebelum semua kau pahami.
Sekali lagi, takdir kadang datang bertele-tele.
Tolong kau ingat suara pelan ini untuk terus mengingatkanmu bahwa kita pernah mengeja lara dan bahagia bersama, di sini.
Kalam
Dan yang paling puisi darimu adalah lantun ucap yang tak berkilauan, namun sejuk jernih setenang telaga
Bisik, Pena, Hujan
bisik, pena dan hujan-
Kala ini kubiarkan rinai menjamah khayal untuk lalu melukis aksara dari bulir reruntuhan langit pagi
Lantas, kupahami sunyi di antara jeda hujan yang sempit dan tak jarang mati
Ada bisikMu di sana... Tentang tulus, lewat tanah yang disenggamai hantam tubi... Juga tentang inayat dan orkestrasi damai antara alam, serta tawa dan langkah lugu kaki-kaki kecil prajurit payung penadah rezeki
Ah, Dia selalu puitis bahkan dengan bisik yang amat lirih
Pikirku saja atau mungkin pikirmu jua, yang melulu pekik untuk mendustai kalam-kalamNya... Tidak? Semoga....... Kala ini kubiarkan rinai menjamah khayal untuk lalu melukis aksara dari bulir reruntuhan langit pagi
Ada bisikmu di sana, bahkan di ruang yang amat sulit kudengar karena telingaku yang kufur.
Aku, aku dan aku
Adalah lungkang yang menyulam lara
saat derai darma mulai sampai pada tujuan
kau pun mulai harus berlabuh di tepian
tak apa, bergegaslah
aku, aku dan aku akan selalu tersenyum saat kau semua mulai berancang terbang
namun, tengoklah sejenak
aku, aku dan aku menunggu senyum tenteram yang hampir tiga warsa aku, aku dan aku nikmati
untuk menyeka lelah yang mulai rintih, bukan karena aku, aku dan aku ingin berhitung
namun hanya ingin sekadar mencari pereda yang sedikit mampu menggambar nuansa saat mengeja nada bersama.
Minggu, 23 April 2017
Tanda (?)
?
Aku berjalan di antara pematang resah
Dilirik dan dipelototi mata-mata cemas penuh harap dan amarah
Tataplah sesekali di sisi waktu lain yang terbelah
Bukanlah mata dan kaki itu menari sumringah
Jangan coba kau pikir itu sebuah pertunjukan dalam pesta mewah
Namun, itulah lompatan-lompatan tak gagah dari kaki kecil yang kapan saja goyah, berlarian mencari arah yang bersedia menjadi tadah dari langit yang berurai marah....
Sudah kau lihat tanda tanya itu?
Coba, duduklah sejenak...
Perut-perut mereka mulai sakit, tepat saat sekelompok anak muda di balik kaca tebal gedung kokoh itu saling melumuri wajahnya dengan kue coklat, Memuja sia-sia
"kopi langit yang kau seruput diantara perut-perut yang sakit"
Itulah lompatan-lompatan tak gagah dari kaki kecil yang kapan saja goyah, menunggu tuan pembagi gelisah.
Titik dua, kurung tutup
Di antara senyap waktu yang berjeda, aku mulai mengeja harap dengan kata. Dan namamu adalah abjad yang paling sering kueja