Selasa, 25 April 2017

Bisik, Pena, Hujan

bisik, pena dan hujan-

Kala ini kubiarkan rinai menjamah khayal untuk lalu melukis aksara dari bulir reruntuhan langit pagi

Lantas, kupahami sunyi di antara jeda hujan yang sempit dan tak jarang mati

Ada bisikMu di sana... Tentang tulus, lewat tanah yang disenggamai hantam tubi... Juga tentang inayat dan orkestrasi damai antara alam, serta tawa dan langkah lugu kaki-kaki kecil prajurit payung penadah rezeki

Ah, Dia selalu puitis bahkan dengan bisik yang amat lirih

Pikirku saja atau mungkin pikirmu jua, yang melulu pekik untuk mendustai kalam-kalamNya... Tidak? Semoga....... Kala ini kubiarkan rinai menjamah khayal untuk lalu melukis aksara dari bulir reruntuhan langit pagi

Ada bisikmu di sana, bahkan di ruang yang amat sulit kudengar karena telingaku yang kufur.

Aku, aku dan aku

Adalah lungkang yang menyulam lara
saat derai darma mulai sampai pada tujuan
kau pun   mulai harus berlabuh di tepian

tak apa, bergegaslah
aku, aku dan aku akan selalu tersenyum saat kau semua mulai berancang terbang

namun, tengoklah sejenak
aku, aku dan aku menunggu senyum  tenteram yang hampir tiga warsa aku, aku dan aku nikmati
untuk menyeka lelah yang mulai rintih, bukan karena aku, aku dan aku ingin berhitung
namun hanya ingin sekadar mencari pereda yang sedikit mampu menggambar nuansa saat mengeja nada bersama.

Minggu, 23 April 2017

Tanda (?)

?
Aku berjalan di antara pematang resah
Dilirik dan dipelototi mata-mata cemas penuh harap dan amarah

Tataplah sesekali di sisi waktu lain yang terbelah
Bukanlah mata dan kaki itu menari sumringah
Jangan coba kau pikir itu sebuah pertunjukan dalam pesta mewah

Namun, itulah lompatan-lompatan tak gagah dari kaki kecil yang kapan saja goyah, berlarian mencari arah yang bersedia menjadi tadah dari langit yang berurai marah....
Sudah kau lihat tanda tanya itu?
Coba, duduklah sejenak...
Perut-perut mereka mulai sakit, tepat saat sekelompok anak muda di balik kaca tebal gedung kokoh itu saling melumuri wajahnya dengan kue coklat, Memuja sia-sia

"kopi langit yang kau seruput diantara  perut-perut yang sakit"

Itulah lompatan-lompatan tak gagah dari kaki kecil yang kapan saja goyah, menunggu tuan pembagi gelisah.

Titik dua, kurung tutup

Di antara senyap waktu yang berjeda, aku mulai mengeja harap dengan kata. Dan namamu adalah abjad yang paling sering kueja

Sabtu, 30 Juli 2016

Lagi, Kau



Lagi, Kau
Kau adalah senja
Nampak dan terlihat indah di sisi cakrawala yang kau ingin
Kau dicipta tak untuk bertahan di kefanaan

Ikhlas penghangat doa
Ialah sunyi tanpa bunyi
Ketulusan adalah nol harapan

300716 22.22

Telaga



Telaga
Kusampaikan rindu yang melulu ini di waktu terbaik saat gelap hampir hening
Semoga terasa hangat di dingin malammu

Dan matamu yang tak beriak, selalu menatap sehening telaga surga
Meruah asa ingin mengarung di kolam matamu, termasuk aku

Semoga tak mudah kau berikan
Dan semoga tak mudah kudapatkan
Selamat merintang penat betari penebar rindu

Kau

Kau
Oase hati di tengah terik rasa yang gersang