Kau bukan ahli sejarah
Jadi mari kita bicarakan masa depan
Oh puan penjaga, pemaham dan ahli pematri aksara. Muak dan mual adalah tipis beda, sederhana, nun dahsyat makna. Manalah kaktus tahu ain hati seorang puan, entah ain hati puan memuja-muji kaktus lain. Puan, senang dan tenang adalah tipis beda, nun dahsyat makna. Janji puan mampu terdengar namun hati tak ada daya. Maka pun titik sederhana jagalah sudah.
Tetaplah hidup dalam bising sunyi sepertiga yang kau puja
Khilafkan lara lalu yang kian meredup
Me-layu dan bergeming di hadapNya
-ah, 251117-
Berkelaluan, pena beruntung yang digenggammu menjelma bak bedaya di atas hamparan karpet kertas
Melengok
Mendayu, hilir-mudik menafsir imaji
Pernak-pernik citra, angan atau bukti mimpi, kau gubah dalam untai kalam plastis
Menyengsam elok dalam palung renung pengeja alif-bata
ah, 071117 10:00
Jangan membenci hujan duhai sang penjaga, karena tak jarang kau menembus waktu dan berkuyup di dalamnya. Pula pesan bunyi rintihnya adalah rindu yang tak berharap balas anggapan darimu yang selalu meniadakan.
Sudah beralamat, ribuan tanya yang kau selamkan lewat waktu yang kesepian tak diacuhkan arah. Seperti cangkir hello kitty yang tanpa kau sadar selalu menjadi peranti pelepas dahaga pergumulan mencapaiNya, tak ingin ditahui, diam-diam kaktus menyuka rona kemerah mudaan,
Tetaplah hidup dalam bising sunyi sepertiga yang kau puja. Khilafkan perlahan lara lalu yang kian meredup. Me-layu nan bergeming, di hadapNya.